Minggu, 15 April 2012

MAKALAH TRADISI UPACARA ADAT KESUKUAN NUSANTARA

MAKALAH TRADISI UPACARA ADAT

KESUKUAN NUSANTARA






















                              Kelompok  X
                     Ketua             : Fajar Sidik
                     Sekretaris     : ripal N
                    Anggota             : Pepi S
                   

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI PASIRIPIS SURADE
SUKABUMI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala inayah rahmatnya serta ridho- Nya, kami telah menyusun sebuah rangkuman
yang di beri judul "Makalah Tradisi Upacara Adat Kesukuan Nusantara"
    Dengan adanya Rangkuman ini, yang menyajikan metode praktis agar mudah untuk di pelajari. Semoga dapat membantu kepahaman kita dalam pelajaran SKI ini.
    Kami menyadari bahwa makalah ini sangat sederhana dan banyk kekurangannya. Karena itu, kritik maupun saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini sangat kami harapkan.
    Sekian dan trerima kasih semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan pembaca pada umumnya.







                                Surade, 5 Oktober 2011



Penyusun
       






DAFTAR ISI



Halaman

KATA PENGANTAR    i
DAFTAR ISI    ii
BAB I PENDAHULUAN    1
1.1    Latar Belakang    1
1.2    Tujuan Pembuatan Makalah    1
BAB II PEMBAHASAN    2
2.1 Tradisi Masyarakat Sunda    2
2.2 Tradisi Masyarakat Jawa    4
2.3 Tradisi Masyarakat Aceh    5
2.4 Tradisi Masyarakat Bugis    6
BAB III PENUTUP    9
3.1 Kesimpulan    9
3.2 Saran    9
DAFTAR PUSTAKA      10



















BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Keragaman budaya atau "cultural diversity" adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan.

1.2    Tujuan Penulisan

Untuk lebih menguasai dan memahami suatu mata pelajaran maka harus ada pembelajaran dan pendalaman tentang mata pelajaran tersebut, untuk itu maka di tugaskanlah pembuatan makalah tentang Sejarah Kebudayaan Islam ini.
Selain itu, dengan di tugaskannya pembuatan makalah ini siswa menjadi lebih luas wawasannya baik dalam bidang mata pelajaran maupun penguasaan Informasi Teknologi, karena sebagian besar materi dalam makalah ini diambil dari Internet.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tradisi Masyarakat Sunda dan Jawa
    2.1.1 Tradisi Masyarakat Sunda
    - Ngaliwet, demikian istilah yang lazim digunakan oleh masyarakat sunda yang akan mengadakan makan bersama dengan menu spesial di akhir pekan.
Ngaliwet bukan hanya sekedar makan bersama melainkan, ada ritual masak bersama pula. Mulai dari patungan biaya membeli bahan makanan atau menyumbangkan jenis bahan makanan mentah untuk dimasak. Ngaliwet menjadi tradisi orang sunda yang telah lama ada. Hampir setiap akhir pekan terutama para remaja mengadakan acara ngaliwet. Entah sejak kapan tradisi ngaliwet tersebut sudah berlangsung. Para remaja biasanya mengadakan ngaliwet pada malam minggu ataupun hari minggu menjelang makan siang.
    - Sejak dahulu masyarakat Sunda sudah mengenal astronomi, mereka menyebutnya "Palintangan". Salah satu fungsinya adalah menentukan musim bertani. Secara tradisional masyarakat Sunda memperhatikan 3(tiga) prinsif dasar dalam mengharmoniskan hal-hal yang alami, hayati dan insani. Tiga prinsif tersebut muncul kepermukaan dalam seluruh tahap kehidupan sesuai dengan tingkat dan hubungan.sosial.mereka.
    Berikut ini nama-nama musim berdasarkan pada tradisi palintangan masyarakat Sunda
Musim yang berhubungan erat dengan keadaan alam.
1. Usum (musim) Ngijih, tanda waktunya sering turun hujan
2. Usum katiga, artinya musim kemarau
3. Usum Barat, yang ditandai dengan adanya angin yang besar yang berhembus dari arah barat disertai dengan hujan   
    - Upacara Mengandung Empat Bulan, Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil. Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjank empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do'a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.
    - Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.


2.1.2 Tradisi Masyarakat Jawa
- Bagi masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritus ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban.
    Nyadran dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, di mana nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif.
- Solo Sekaten merupakan tradisi turun temurun yang diadakan setiap tahun di Kota Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.
Sejarah sekaten sendiri berawal pada tahun 1939 Saka atau 1477 M, dibangunnya Masjid Agung Demak di Kabupaten Bintoro oleh Raden Patah selaku Adipatinya pada jaman itu dengan dukungan musyawarah para wali. Salah satu hasil musyawarah tersebut adalah meningkatkan syiar Islam selama tujuh hari terus menerus menjelang peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Supaya masyarakat tertarik dengan syiar tersebut maka diiringi dengan bunyi gamelan yang diciptakan oleh Sunan Giri dengan membawa gending-gending bernafaskan syiar Islam ciptaan Sunan Kalijaga. Hingga suatu saat masyarakat banyak yang tertarik untuk masuk agama Islam.
- Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian budaya Jawa. Upacara tradisional Mendhak dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk memperingati kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara tradisional Mendhak adalah sebagai berikut: tumpeng, sega uduk, side dishes, kolak, ketan, dan apem. Kadang-kadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak dilaksanakan, sanak keluarga dapat mengunjungi makam saudaramereka.
    Upacara tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian: pertama disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari); kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian; ketiga disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan pada hari ke seribu setelah kematian.
- Miwit merupakan tradisi lokal yang diadakan oleh para petani, tradisi miwit dilaksanakan sebelum petani mulai memanen padi di sawahnya, tradisi ini diadakan secara individual, yaitu petani yang akan panen memasak berbagai macam sayur(biasanya gudangan atau pecel) untuk dibagikan kepada anak-anak yang mengikuti miwit. Upacara Miwit diadakan di sawah yang akan dipanen padinya. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME, petani meletakkan sebungkus nasi lengkap dengan sayuran di sudut-sudut sawah.

2.2 Tradisi Masyarakat Aceh
- Masyarakat Aceh punya tradisi tersendiri untuk menyambut hari-hari besar Islam. Makmeugang atau Uroe Meugang adalah salah satu tradisi dalam masyarakat Aceh yang telah ada sejak berabad yang lalu yaitu berupa kegiatan membeli dan memakan daging di hari istimewa, biasanya dua hari menjelang puasa dan dua hari menjelang Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.
- Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh berupa pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam "Almanak Aceh" yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan, dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.
dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (dilhok ngon u)
Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat- seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.
Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum'at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat jumat.

2.3 Tradisi Upacara Minangkabau
- Upacara kehamilan, Ketika roh ditiupkan kedalam seorang ibu pada saat janin berusia 16 minggu, maka disaat inilah bebera kalangan masyarakat mengharapkan doa dari kerabatnya. Pengertian kerabat disini terdirin dari para ipar dan besan dari masing-masing pasangan isteri.
Seperti pada umumnya setiap hajad kebaikan - maka keluarga yang akan membangun kehidupan baru menjadi pasangan keluarga sakinah ma waddah wa rahmah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar awal kehidupan janin membawa harapan yang dicita-citakan.
Upacara Turun Mandi dan Kekah, Sering upacara ini dilakukan dengan tradisi tertentu diantara para ipar - besan dan induk bako dari pihak si Bayi. Induk Bako - si Bayi akan memberikan sesuatu kepada sang bayi sebagai wujud kasih sayangnya atas kedatangan bayi itu dalam keluarga muda.
Umumnya Induk bako dan kerabatnya akan memberikan perhiasan berupa cincin bagi bayi laki-laki atau gelang bagi bayi perempuan serta pemberian lainnya.
Apabila seorang anak laki-laki telah cukup umur dan berkat dorongan kedua orang tuanya, maka seorang anak akan menjalani khitanan yang di Ranah Minang disebut " Sunat Rasul.
Sunah rasul mengandung pengharapan dari kedua orang tuanya agar anak laki-lakinya itu menjadi anak yang dicita-citakan serta berbakti kepada kedua orang tua.
Saat ini telah menjadi trend baru di kalangan masyarakat, yang kemudian melahirkan tradisi baru dikalangan atas masyarakat minangkabau - melalui pennyelenggaraan upacara tertentu seperti perhelatan. Anak laki-laki yang sudah dikhitankan itu didudukkan di sebuah pelaminan seperti pengantin.
Sebenarnya ini bukanlah kebiasaan yang menjadi tradisi dalam masyarakat minangkabau namun keboleh jadian bahwa tradisi merupakan hasil asimilisai dari berbagai etnis yang hidup di Indonesia. Ssuatu saat akan menjadi tradisi pula dikalangan masyarakat minangkabau.

2.4 Macam - Macam Upacara Adat Kesukuan Indonesia

2.1 Tahlilan
Tahlilan adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdo'a kepada Alloh dengan membaca surat Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil (laailaaha illallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah). Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Alloh SWT (tasyakuran) dan mendo'akan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1.000 dan khaul (tahunan). Tradisi ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu Kenduri, selamatan dan sesaji. Dalam agam Islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsure kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau lauk-pauk yang bisa dibawa pulang oleh peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka kembali ke agamanya.



 2.2 Sekaten
        Sekaten adalah upacara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Yogyakarta atau Maulud. Selain untuk Maulud, Sekaten diselenggarakan pada bulan Besar (Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan Sekati diarak dari Keraton ke halaman mesjid Agung Yogya dan dibunyikan siang-malam sejak seminggu sebelum 12 Rabiul Awal. Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi pesan tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat atau syahadatain, kemudian menjadi Sekaten.

   2.3 Adat Basandi Syara', Sara' Basandi Kitabulloh
Masyarakat Minangkabau dikenal kuat dalam menjalankan agama Islam, sehingga adat mereka dipautkan dengan sendi Islam yaitu Al-Qur'an (Kitabullah). Adat Minagkabau kental dengan nuansa Islam sehingga melahirkan semboyan adat basabdi syara, syara basandi kitabullah (Adat bersendikan syara dan syara bersendikan Kitab Alloh).
2.4 Seni Tradisi Genjring
Seni tradisi ini banyak ditemukan di daerah Purwokerto, dan Banyumas pada umumnya. Di kalangan masyarakat Banyumas, kesenian tradisi ini lebih banyak yang berbasis di masjid. Pada masa lalu, kesenian ini cukup efektif untuk melakukan pembinaan generasi muda, karena hampir setiap malam anak-anak muda bertemu di masjid. Untuk mengisi waktu senggang, mereka memainkan genjring bersama-sama di masjid. Namun saat ini kesenian ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan kaum muda, sehingga jumlahnya didominasi kaum tua (50 tahunan).
2.5 Kesenian Singkiran
Kelompok kesenian ini salah satunya ditemukan di daerah Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Kelompok ini menamakan keseniannya sebagai " Singir Ndjaratan" yang artinya "tembang kematian". Selain menarasikan nasehat-nasehat kebajikan, kesenian ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk mendoakan para leluhur melalui pembacaan kalimat tahlil yang mengiringi pembacaan narasi syiiran. Kesenian ini semakin hari digerus oleh perspektif Islam modernis dan banyak tergantikan dengan tahlil dan yasinan
2.6 Sholawat Jawi
Kesenian Shalawat Jawi di temukan di daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga sudah menyebar di sekitar kecamatan Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten Bantul. Kesenian ini merupakan salah satu bentuk penegasan jawanisasi kesenian Islam. Kesenian yang berkembang seiring dengan tradisi peringtaan Maulid Nabi ini mengartikulasikan syair atau syiiran shalawat kepada Nabi Muhammad dengan medium bahasa Jawa, bahkan juga dengan melodi-melodi Jawa (langgam sinom, dandang-gula, pangkur dan lain-lain).
   2.7 Tradisi Upacara Bugis Makasar
    - Upacara tujuh bulan kehamilan, dalam bahasa Bugis Bone disebut Mappassili, artinya memandikan. Makna upacara ini adalah untuk tolak bala atau menghindari dari malapetaka/bencana, menjauhkan dari roh-roh jahat sehingga segala kesialan hilang dan lenyap. Acara itu diawali dengan iring-iringan pasangan muda tersebut, dalam pakaian adat Bugis menuju sebuah rumah-rumahan yang terbuat dari bambu dengan hiasan bunga dan pelaminan yang meriah oleh warna-warna yang mencolok.
Sebelumnya, calon ibu yang hamil tujuh bulan dari pasangan muda ini harus melewati sebuah anyaman bambu yang disebut Sapana yang terdiri dari tujuh anak tangga, memberi makna agar rezeki anak yang dilahirkan bisa naik terus seperti langkah kaki menaiki tangga. Upacara Mappassili diawali dengan membacakan doa-doa yang diakhiri oleh surat Al-Fatihah oleh seorang ustadzah. Bunyi tabuh-tabuhan dari kuningan yang dipegang oleh seorang bocah laki-laki mengiringi terus upacara ini.
- Upacara Appasunna (Khitanan Adat) di pangkep dikenal dua versi. Perbedaannya hanya waktu dan urutan kegiatan sebab satu dilaksanakan pada siang hari dan satunya dilaksanakan pada malam hari, sehingga boleh dikata tidak ada perbedaan sama sekali. Versi pertama dengan urutan kegiatan Menre Baruga, Mammata-mata, Allekke Je'ne,  Appassili, Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi, Appamatta dan  Khitanan (Nisunna).
Pada versi ini acara "mammata-mata" ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga sekaligus dilangsungkan acara mammata-mata. Pada acara  acara menre baruga, anak yang akan di sunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari. Sedangkan versi kedua acara "mammata-mata" ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah







BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
    Masyarakat sunda jawa bugis aceh atau pun yang lainnya memiliki struktur sosial dan kebudayaan masing - masing. Masyarakat sunda memiliki keperibadiam lebih kepada sopan santun dan ramah tmah sedangkan masyarakat jawa lebih kepada kedisiplinan mereka yang kuat, beda lai dengan masyarakat aceh yang masyarakatnya lebih agamis.


3.2 Saran
    Beragam suku bangsa di negara ini beragam pula budayanya, mulai dari sabang sampai merauke mulai dari yang beragama sampai yang atheis semua memiliki ciri dan keperibadian khas masing - masing.
    Masyarakat sunda beda budayanya dengan masyarakat minang begitu pula beda dengan masyarakat jawa, terlepas dari itu semua kita adalah saru dalam NKRI hal ini lah yang patut di kedepankan, kita bersatu ketika zaman perjuangan dahulu maka harus juga kita bersatu dalam zaman pembangunan sekarang ini




























DAFTAR PUSTAKA



1.    id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia
2.    www.docstoc.com/docs/10178284/Suku-bangsa-di-indonesia
3.    anaamy.wordpress.com/.../apresiasi-terhadap-tradisi-dan-upacara.
4.    perdetik.blogspot.com/.../apresiasi-terhadap-tradisi-dan-upacara




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar